Strategi Pembelajaran

Selvi Marsendi 

PAI 4/F


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...

Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa mengetik di blog ini setelah sekian lama menghilang ;)

Nah, pada kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai kultur sekolah untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu skripsi yang berjudul “Strategi Pembelajaran”.

Di sini kita harus mengetahui dulu apa itu strategi pembelajaran, jadi secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan method or series activities designed to echieves a particular education goal (J.R David, 1976). 

Jadi dengan demikian strategi pengajaran dapat diartikan sebagai perencanaanyang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuantertentu.

Kamp (1995) menjelasakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Senada dengan pendapat di atas, Dick dan Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Nah selaim itu ada juga nih pengertian dari strategi pembelajaran bahasa Arab yaitu suatu upaya untuk mengatur 

(memenej, mengendalikan) aktivitas pengajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran khususnya dalam bahasa Arab untuk mensukseskan tujuan pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efesien dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan, diakhiri dengan penilaian, dan dari penilaian akan dapat dimanfaatkan sebagai feedback (umpan balik) bagi perbaikan pengajaran lebih lanjut. Pengajaran bahasa Arab mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran bahasa Arab.

Prof.H. Mahmud Yunus dalam bukunya “Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an)” mengemukakan empat macam metode mengajar bahasa Arab, yakni metode lama (metode Alif Ba-Ta) metode suara, metode kata-kata dan metode kalimat. Selanjutnya metode mengajar Alif Ba-Ta ini untuk sekarang mulai diperhatikan dan jarang dipakai, karena tidak sesuai lagi dengan tuntutan kehidupan masyarakat modern. Metode Alif Ba-Ta dianggap kurang efektif dan efesien dalam pengajaran Al-Qur’an. Sebagai penggantinya, diterapkan metode CBSA dengan seperangkat buku pedomannya yang diberi nama “IQRA” yang terdiri dari enam jilid, inilah metode modern dalam pengajaran al-Qur’an yang sedang dipopulerkan dibeberapa daerah di Indonesia termasuk di Lampung. Metode IQRA ini pun sudah diterapkan dalam proses interaksi belajar mengajar disekolah, terutama di Sekolah Dasar untuk bidang studi al-Qur’an.

1. Konsep dasar strategi belajar mengajar

Seperti telah diuraikan di atas bahwa konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi: a) menetapkan spesipikasi dan kualipikasi perubahan tingkah laku, b) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, c) memilih prosedur, metode, tekhnik belajar mengajar, dan d) menerapkan norma dan criteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

2. Sasaran kegiatan belajar mengajar

Sasaran dalam kegiatan belajar mengajar meliputi: a) pengembangan bakat secara optimal, b) hubungan antar manusia, c) efesiensi ekonomi, d) tanggung jawab selaku warga Negara 3. Belajar mengajar sebagai suatu system Belajar mengajar sebagai suatu system meliputi suatu komponen antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, evaluasi, untuk mencapai itu semua perlu adanya kerja sama.

Selanjutnya ada juga, jenis-Jenis Strategi Belajar Mengajar

1. Atas dasar proses pengelolaan pesan

a. Strategi deduktif

Dengan strategi deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian itu berupa sifat, atribut atau cirri-ciri.

b. Strategi induktif

Dengan strategi induktif materi atau bahan ajaran diolah mulai dari yang khusus (sipat, cirri atau atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan.

2. Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan

a. Strategi ekspositorik

Dengan strategi ekspositorik bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal ”terima jadi” dari guru. Dengan strategi ekspositorik guru yang mencari dan mengelola bahan ajaran yang kemudian menyampaikan. 

b. Strategi hueristik

Dengan strategi hueristik, bahan atau materi pelajaran diolah siswa. Siswa yang aktif mencari dan mengelola bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator untuk memberikan dorongan, arahan dan bimbingan.

3. Atas dasar pertimbangan pengaturan guru

a. Strategi guru Seorang guru mengajar kepada sejumlah siswa.

b. Strategi pengajaran beregu

Dengan pengajaran beregu, dua orang atau lebih mengajar sejumlah siswa.

4. Atas dasar pertimbangan jumlah siswa

a. Strategi klasikal

b. Strategi kelompok kecil

c. Strategi individual

5. Atas dasar pertimbangan interaksi guru dan siswa

a. Strategi tatap muka

Akan lebih baik denganmenggunakan alat peraga.

b. Strategi pengajaran melalui media

Guru tidak langsung kontak dengan siswa, akan tetapi guru mewakilkan kepada media siswa berinteraksi dengan media.

Robert M. Gagne membedakan jenis-jenis belajar mengajar ke dalam 

delapan tipe sebagai berikut:4

1. Signal learning (belajar isyarat)

2. Stimulus-Respons learning (belajar stimulus respons)

3. Chaining (rantai atau rangkaian)

4. Verbal Association (asosiasi verbal)

5. Discrimination learning (belajar diskriminasi)

6. Consept learning (belaqjar konsep)

7. Rulr learning (belajar aturan)

8. Problem solving (pemecahan masalah) 

Pertimbangan Memilih Strategi Pembelajaran

1. Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai 

pertanyaan- pertanyaan yang dapat diajukan

a. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan 

aspek kognitif, afektif dan psikomotorik?

b. Bagaimanakah kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 

apakan tingkat tinggi atau rendah?

c. Apakah untuk mencapai tujuan memerluka keterampilan akademis?

2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pelajaran

a. Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hokum atau teori tertentu?

b. Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itumemerlukan prasyarat tertentu atau tidak?

c. Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi-materi tertentu?

3. Pertimbangan dari sudut siswa

a. Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?

b. Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa?

c. Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan pembelajaran siswa?

4. Pertimbangan-pertimbangan lainnya

a. Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja?

b. Apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan?

c. Apakah strategi itu memiliki nilai efektivitas dan efesien? 

Prinsip-Prinsip Pengajaran Bahasa Arab (Asing)

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam bahasan ini adalah hal-hal 

yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Oleh 

sebab itu guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi 

pembelajaran sebagai berikut5:

1. Berorientasi pada tujuan

Dalam system pembelajaran, tujuan merupakan komponen-komponen 

yang utama. Segala aktivitas guru dan siswa mestilah diupayakan untuk 

mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar 

adalah proses, oleh karenanya keberhasilan suatu strategi pembelajaran 

dapat ditentukan dari keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

2. Aktivitas 

Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa.

3. Individualitas

Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu siswa, walaupun kita mengajar pada sekelompok siswa namun pada hakikatnya yang ingin kita capai adalah perubahan prilaku setiap siswa.

4. Integralitas 

Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektifitas prikomotorik. Oleh karena itu strategi pembelajaran dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa secara terintegrasi.

Ada sejumlah prinsip khusus dalam pengolahan pembelajaran, sebagai berikut:

1. Integratif

Prinsip integratif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa, akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

2. Inspiratif

Proses pengajaran adalah proses inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu.

3. Menyenangkan

Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya dapat berkembang manakala siswa terlepas dari rasa takut dan menegangkan

4. Menentang

Proses pembelajaran adalah proses yang menentang siswa untuk mengembangkan kemampuan untuk berfikir yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan mencoba-coba, berfikir secara intuitif.

5. Motivasi

Motivasi adalah proses yang sangat penting untuk pembelajaran siswa. 

Tanpa adanya motivasi, tidak mungkin siswa memiliki kemauan untuk belajar, oleh karena itu membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran.

Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab (asing) yaitu 

prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, 

prinsip bertahap, prinsip penghayatan, serta korelasi dan isi:

1. Prinsip prioritas

Dalam pembelajaran bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran, yaitu: a) mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis, b) mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata, c) menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarakan bahasa sesuai dengan penutur bahasa arab.

a. Mendengar dan berbicara terlebih dahulu dari pada menulis. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia,6 yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. 

Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis. Ada beberapa tekhnik melatih pendengaran/telinga, yaitu:

1) Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam, baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati secara kolektif.

2) Guru bahasa asing kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi 

,ي – ح ,ء – ع ,س – ش ,ز – ذ :huruf yang hamper sama sifatnya. Mis dan seterusnya.

7 Selanjutnya materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa Indonesia,-edt) peserta didik, seperti: ض, ص, , ث, ذ, خ dan seterusnya.

Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkah-langkah berikut:

1) Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing, kemudian dilatih dengan huruf￾huruf dengan tanda panjang dan kemudian dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Misalnya : تو, تا, ب, تى dan seterusnya.

2) Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak 

dan melafalkan huruf atau kata-kata untuk meniru intonasi, cara berhenti, maupun panjang pendeknya.

b. Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya 

تيضاء مستعملة مصىوعة في الياتان اشتريث سيارة صغيرة : dipenggal-penggal). Contoh

صغيرة اشتريث سيارة صغيرة تيضاء : kemudian dipenggal-penggal menjadi dan seterusnya اشتريث سيارة اشتريث سيارة

2. Prinsip koreksitas (الدقة) prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi األصوات (fonetik), التراكة (sintaksis), dan المعاوى (semiotic). Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut : pertama, korektisitas dalam pengajaran (fonetik). Kedua, korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). Ketiga, korektisitas dalam pengajaran (semiotic). a) korektisitas dalam pengajaran fonetik pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu, maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus menerus dan focus pada kesalahan peserta didik.

b) korektisitas dalam pengajaran sintaksis perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap bahasa Arab. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek), tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja (فعل). 

c) korektisitas dalam pengajaran semiotic dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukkan dalam satu kalimat. Tetapi, dalam bahasa Arab, hamper semua kata mempunyai arti lebih dari satu, yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (sata kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu, guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk.

3. Prinsip berjenjang (التدرج) jika dilihat dari sifatnya, ada tiga kategori prinsip berjenjang, yaitu: pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.

a. Jenjang pengajaran mufradat pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik, yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. Selanjutnya memberikan materi kata sumbang. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya.

b. Jenjang pengajaran Qowaid (morfem) dalam pengajaran qowaid, baik qowaid nahwu maupun qawaid sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran qowaid nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (jumlh mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.

c. Tahapan pengajaran makna (المعاوي داللة) dalam mengajarkan makna 

kalimat atau kata-kata, seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian mereka. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic. Dilihat dari tekhnik materi pengajaran bahasa Arab, tahapan-tahapannya dapat dibedakan sebagai berikut: pertama, pelatihan melalui pendengara sebelum melalui penglihatan. Kedua, pelatihan lisan/pelafalan sebelum membaca. Ketiga, penugasan kolektif sebelum individu. Langkah-langkah aplikasi (المتاوة و الصالتة) ada delapan langkah yang diperlukan agar tekhnik diatas berhasil dan dapat terlaksana, yaitu:

1) Memberikan contoh-contoh sebelum memberikan kaidah 

gramatika, karena contoh yang baik akan menjelaskan gramatika secara mendalam dari pada gramatika saja.

2) Jangan memberikan contoh hanya satu kalimat saja, tetapi harus terdiri dari beberapa contoh dengan perbedaan dan persamaan teks untuk dijadikan analisa perbandingan bagi peserta didik.

3) Mulailah contoh-contoh dengan suatu yang ada didalam ruangan kelas/media yang telah ada dan memungkinkan menggunakannya.

4) Mulailah contoh-contoh tersebut dengan menggunakan kata kerja 

yang bisa secara langsung dengan menggunakan gerakan anggota 

tubuh.

5) Ketika mengajarkan kata sifat hendaknya menyebutkan kata-kata yang paling banyak digunakan dan lengkap dengan pasangannya. 

Misalnya hitam-putih, bundar-persegi.

6) Ketika mengajarkan huruf jar dan maknanya, sebaiknya dipilih huruf jar yang paling banya digunakan dan di masukkan langsung kedalam kalimat yang sederhana. Contoh jumlh ismiyyah: الصىدوق في

خرج. الطاب مه الفصل : contoh jumlah fi’liyah   

الكتة ,

7) Hendaknya tidak memberikan contoh-contoh yang membuat peserta didik harus meraba-raba karena tidak sesuai dengan kondisi pikiran mereka.

8) Peserta didik diberikan mitivasi yang cukup untuk berekspresi melalui tulisan, lisan bahkan mungkin ekspresi wajah, agar mereka merasa terlibat langsung dengan proses pengajaran yang berlangsung.

Sumber : Ali Asrun Lubis. Konsep Strategi Belajar Bahasa Arab. Jurnal Darul 'Ilmi Vol.  01, No.  02 Juli 2013. STAIN Padangsidimpuan.

Komentar