Kultur Sekolah

Nama : Selvi Marsendi

Kelas  : PAI 4/F


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...


Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa mengetik di blog ini setelah sekian lama menghilang ;)

Nah, pada kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai kultur sekolah untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu jurnal yang berjudul “Kultur Sekolah”.

Jadi istilah kultur itu berasal dari bahasa Inggris "culture" yang dalam keseharian disinonimkan dengan istilah "budaya". 

Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan . Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan . Dikatakan berbeda sebab budaya berasal dari bahasa Sanskerta "buddhi", yang berarti "budi" atau "akal" yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu. Dikatakan sama sebab dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah itu sebenarnya mempunyai pengertian yang sama.

Berikutnya Koentjaraningrat menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu: a. kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau peraturan b. kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat c. kebudayaan sebagai hasil karya

Menyimak pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa budaya atau kultur dengan demikian dapat mengandung pengertian dalam istilah populer dan istilah teknis. 

Anthropologi. Penggunaan istilah populer lebih condong merujuk kepada minat dan aktivitas tertentu, misalnya musik, sastra, seni . Budaya dalam istilah teknis, mengandung pengertian segala yang hidup di dalam suatu kelompok  seperti yang disampaikan oleh Pai  bahwa:

"culture is the whole of humanity‟s intellectual, social, technological, political, economic, moral, religious, and aesthetic accomplishments".

Gagasan memandang organisasi sebagai budaya atau kultur menurut Robbins  dikarenakan pengertian organisasi tidak semata-mata dapat dibayangkan sebagai "alat rasional untuk mengkoordinasi dan mengendalikan sekelompok orang melalui tingkat-tingkat vertikal, departemen, hubungan wewenang dan seterusnya", melainkan juga sebagai "suatu sistem dari makna yang dianut bersama di kalangan anggota-anggotanya".

Seperti halnya individu, organisasi mempunyai kepribadian; bisa tegar atau fleksibel, tidak ramah atau mendukung, inovatif atau konservatif. 

Corporate Culture: The Rites and Rituals of

Corporate Life.

Sastrapratedja  juga menyatakan tidak ada satu definisi baku tentang pengertian corporate culture atau organizational culture.

Senada dengan hal ini Deal &Peterson  menyatakan: "Óf the many different conception of culture, none is universally accepted as the one best definition". Deal &Kennedy  misalnya, melihat budaya organisasi sebagai "sesuatu" yang dimiliki organisasi, berupa sistem dari makna dan keyakian bersama . Dengan kata lain budaya organisasi adalah suatu komponen organisasi dan bukan organisasi itu sendiri.

habits of thinking, mental model, and/or linguistic paradigms;  shared meaning; dan  root metaphor or integrating symbols.

Sastrapratedja  juga menguraikan aspek-aspek penting dari budaya atau kultur organisasi dari berbagai hasil penelitian sebagai berikut: a. Budaya merupakan hasil cipta komunikasi. Budaya muncul dan dipertahankan oleh tindakan-tindakan komunikasi dari semua anggota dan bukan hanya strategi dorongan dari para manajer di atas.

b. Budaya terdiri atas asumsi-asumsi yang diandaikan, makna yang dihayati bersama dan nilai-nilai yang mendasari pemecahan masalah-masalah kritis, pengambilan keputusan, pengendalian, komunikasi antarwarga, persepsi dan pembenaran tindakan.

c. Budaya menggejala dalam rutinitas sehari-hari, dalam proses pembentukan identitas organisasi.

Mencermati uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kultur atau budaya dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai ide, gagasan atau nilai, persepsi, serta pandangan hidup tentang suatu organisasi yang tampak dalam aktivitas yang berpola, teratur, dan ada unsur kebiasaan, serta dapat menghasilkan sesuatu sebagai karya organisasi/kelompok.

Berbicara mengenai budaya suatu organisasi sesungguhnya menyangkut pandangan makro yang mengacu pada budaya dominannya. Budaya dominan mengungkapkan nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh suatu mayoritas anggota organisasi. Dalam setiap budaya sesungguhnya terdapat juga anak budaya . Menurut

Robbins  subkultur ialah budaya￾budaya mini di dalam suatu organisasi yang lazimnya ditentukan oleh rambu departemen dan pemisahan geografis. Ini akan mencakup nilai inti dari budaya dominan plus nilai-nilai tambahan yang unik bagi anggota-anggota departmen tersebut.

Sekolah adalah juga sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang masing-masing mempunyai tujuan, mereka terhimpun ke dalam satu susunan yang masing￾masing mempunyai tugas dan tangung jawab.

Sebagai sebuah organisasi sekolah adalah institusi yang mempunyai peran dan tujuan/harapan. Dalam menjalankan peran dan mencapai tujuan itu di dalamnya berlaku norma, aturan, atau ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan kerja antara orang yang satu dengan yang lain. 

Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan

Nasional. 

Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Zamroni , konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi secara efektif dan efisien.

Tokoh lain Phillips  mendefinisikan kultur sekolah sebagai "The beliefs, attitudes, and behaviors which characterize a school", yaitu kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan karakteristik suatu sekolah.

Berikutnya Richardson  mendefinisikan ktltur sekolah sebagai

values and norms. It‟s the group‟s expectations, not just an individual‟s expectations. It‟s the way everyone does business." Menurutnya, kultur sekolah merupakan akumulasi nilai-nilai dan norma-norma sekelompok orang; pandangan kelompok ke depan, bukan individu; dan cara setiap orang dalam memandang dan memecahkan persoalan. 

Sergiovanni menekankan makna kultur sekolah dalam kaitannya dengan upaya menciptakan sekolah efektif dengan menyatakan

The culture of a school is particularly important. Most successful school leader will tell you that getting the culture right and paying attention to how parents, teachers, and students define and experience meaning are two widely accepted rules for creating effective schools.

Paying attention to the values and how they are exhibited in rituals, traditions, stories and other demonstrations of "how we do things here" provides the infrastructure for school improvement. One mode of exhibiting school culture is throught the collaborative planning, implementation and evaluation of specific professional development is accepted and embraced by all.

Elemen-elemen Kultur Sekolah

Sebagaimana telah digambarkan dalam pengertian di atas, kultur sekolah merupakan perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual-ritual, keyakinan, nilai-nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. 

Hedley Beare mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata.

Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau berkaitan atau kalau mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah. 

ritual;  upacara;  prosedur belajar￾mengajar;  peraturan, sistem ganjaran/hukuman;  pelayanan psikologis sosial;  pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: fasilitas dan peralatan;  artifak dan tanda kenangan;  pakaian seragam. 

Disebutkan dalam buku Pedoman

Pengembangan Kultur Sekolah  bahwa kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritus￾ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar￾gambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. 

Kinerja Sekolah

Kinerja sekolah adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja sama, kemampuan untuk berprakarsa dan memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Khusus berkenaan dengan output sekolah dijelaskan bahwa output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah khususnya prestasi anak didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN;  prestasi di bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.

mengemukakan, sekolah adalah lembaga pendidikan yang selama ini kerap menjadi sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan. Hampir semua kasus yang menimpa generasi muda, dijadikan hujatan kepada sekolah. Seakan-akan sekolahlah pusat dari segala malapetaka itu.

Terlepas dari benar atau salah, satu hal yang pasti, sekolah harus beradaptasi dengan perubahan. Harus ditumbuhkan perubahan yang dapat menciptakan keberhasilan upaya-upaya meningkatkan mutu pengelolaan dan mutu hasil pembelajarannya. Strategi melaksanakan perubahan berikutnya menjadi sangat penting bagi sekolah, karena sekolah merupakan sebuah lembaga otonom. Maju mundurnya pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah, tidak lagi dominan ditentukan oleh institusi yang membawahi sekolah, tetapi oleh sejumlah komponen yang ada di dalam sistem persekolahan.

Zamroni  mengemukakan bahwa sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yakni proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga aspek pokok tersebut. Selama ini secara konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan belum dilakukan dengan sistematis . Sasaran dari upaya yang selama ini dilakukan dengan menyediakan dana bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku teks dan pengadaan fasilitas lainnya hanya menyentuh aspek proses belajar mengajar dan kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan ternyata hal ini tidaklah menghasilkan sebagaimana yang diinginkan. Agar mutu meningkat, selain dilakukan secara konvensional sebagaimana selama ini telah dilakukan perlu diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional, yakni melalui pengembangan kutur sekolah.

Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai kultur yang bersifat racun  yaitu yang besifat menganggu dan menyimpang dari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari beroperasinya sekolah.

Kultur sekolah dapat memperbaiki kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif dan profesional. Artinya kultur sekolah seyogyanya menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah, bahkan didukung oleh stakeholder-nya.

Meningkatkan Kinerja Siswa

Keberadaan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah mempunyai peranan yang tidak kecil dalam kelangsungan pendidikan di sekolah. Guru dapat saja mengajar meskipun tidak ada bangku, tidak ada ruang kelas, tidak ada buku dan tidak ada alat peraga. Tapi guru tidak dapat mengajar tanpa ada siswa yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung.

Membangun kegiatan pengajaran dan pendidikan di sekolah tidak saja berarti membangun kinerja guru melainkan juga kinerja siswa. Upaya-upaya meningkatkan kinerja siswa pada proses pembelajaran dirinya sangatlah penting, terutama karena pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Sekolah dan segenap komponen lainnya disediakan untuk membantu proses belajar siswa.

Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas merupakan generasi muda dan aset bangsa yang harus dipersiapkan agar memiliki watak dan karakter yang unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap kewajibannya sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Mereka ini pada umumnya berada dalam masa perkembangan sangat sensitif untuk menemukan jati dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter pribadinya. Pendidikan formal di sekolah merupakan upaya yang sangat strategis untuk membentuk karakter dan kepribadiannya di samping keluarga dan masyarakat.

Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam terminologi kebudayaan, dapat dianggap sebagai suatu pranata sosial yang di dalamnya berlangsung kelakuan-kelakuan tertentu yaitu interaksi antara pendidik dan peserta didik sehingga mewujudkan suatu sistem nilai atau keyakinan, norma juga kebiasaan￾kebiasaan yang dipegang bersama. Tilaar  menyatakan, pendidikan sendiri adalah suatu proses budaya. Jika demikian maka masalah selanjutnya adalah nilai-nilai apa yang seharusnya dikembangkan atau dibudayakan dalam proses pendidikan itu. Senada dengan pendapat ini, Zamroni  menyatakan, pendidikan merupakan proses pembudayaan atau "enculturation", suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dengan budaya tertentu.

Sementara itu dalam perspektif kultur, Djohar  menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat mensosialisasikan nilai-nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai-nilai keilmuan tetapi semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya.

Manusia berbudaya dapat dinilai dari kinerjanya, dipandang dari dimensi pengetahuan, cara berpikir, sikap, perilaku, cara kerja, dari melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah.

Dunia mengenai kemampuan membaca siswa

Indonesia menunjukkan angka yang sangat rendah. Untuk siswa SD, rata-rata hanya menguasai 36,1% dari materi yang diteskan dan menduduki peringkat 26 dari 27 negara yang disurvei. Di tingkat SLTP sudah agak lumayan.

Mereka menguasai materi sebesar 51,7%.

Meskipun begitu, kemampuan ini masih berada di bawah Hongkong , Singapura , Thailand , dan Filipina .

Siswa merupakan subsistem dari satu sistem sekolah. Interaksi dari komponen-komponen yang ada di sekolah dapat menghasilkan kekuatan yang akan mempengaruhi performansi atau kinerja sekolah, baik positif maupun negatif.

Tak terkecuali bagi siswa. Nilai dan kebiasaan yang ditanamkan, pesan dan kesan dari contoh dan model yang dilihat, juga peristiwa yang dialami dan dirasakan dalam interaksinya baik di dalam maupun di luar tembok kelas akan menentukan performansi sikap serta perilaku mereka dalam mengembangkan potensi diri dan membengun kinerja secara akademik maupun nonakademik.

Zamroni  menyatakan setiap interaksi yang berlangsung dalam suatu sekolah tentu akan menghasilkan kekuatan atau energi yang dapat berpengaruh terhadap sekolah, baik positif atau negatif. Artinya bahwa apapun bentuk interaksi yang berlangsung akan menentukan sifat serta besaran energi tersebut.

Energi dimaksud akan bersifat positif apabila hasil interaksi akan menimbulkan efek motivasi dan semangat untuk bekerja lebih keras dari komponen-komponen di dalamnya. Sebaliknya bersifat negatif apabila interaksi akan menyebabkan rasa malas, tertekan dan menurunnya semangat kerja.

Bentuk, corak dan warna setiap interaksi dari komponen-komponen yang ada di sekolah, menurut Djohar  sedikit banyaknya dipengaruhi oleh nilai-nilai serta kebiasaan yang dihayati bersama. Ini menyangkut apa yang dianggap penting dalam hidup seseorang atau suatu organisasi. Dengan sendirinya hal ini berbeda dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Dalam hal sekolah, ada sekolah yang sangat mementingkan pengetahuan, ada yang menganggap kesusilaan yang penting, sementara yang lain menganggap keterampilan adalah lebih berharga. Dengan demikian nilai-nilai inilah yang mendasari keadaan fisik dan perilaku warga sekolah, termasuk siswa.

Berkenaan dengan nilai-nilai tersebut dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah dipaparkan aspek-aspek budaya utama  yang direkomendasikan untuk dikembangkan di sekolah sebagai berikut: a. semangat membaca dan mencari referensi b. nilai-nilai keterbukaan/kejujuran c. nilai-nilai kebersihan d. nilai-nilai disiplin dan efisiensi e. nilai-nilai kebersamaan/kerja sama f. nilai-nilai saling percaya g. budaya berprestasi dan berkompetisi h. budaya memberi teguran dan penghargaan.


Sumber : 

Ariefa Efianingrum. Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, Mei 2013. Universitas Negri Yogyakarta.


Komentar