Kurikulum
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF KURIKULUM HUMANISTI
Assalamualikum wr.wb
Alhamdulilah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan untuk melaksanakan tugas ini.
Nah pada Kali ini saya akan melaporkan hasil bacaan yang saya baca Yaitu kurikulum sekolah untuk memenuhi tugas magang 1. Bahan yang menjadi sumber bacaan saya yaitu jurnal "PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF KURIKULUM HUMANISTIK"
Jadi secara etimologis kurikulum berasal dari bahasa Yunani, curerer yaitu pelari, dan curere yang berarti tempat berlari. Pada awalnya kurikulum merupakan jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai dengan finish. Pandangan tradisional merumuskan bahwa kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah. Di Indonesia istilah kurikulum boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Orang-orang pendidikan sebelumnya menggunakan istilah rencana pelajaran .
Sedangkan menurut Undang-undang No.
Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana, pengaturan mengenai isi, bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam bahasa Arab, kurikulum biasanya diartikan dengan istilah Manhaj yang berarti jalan terang yang dilalui manusia di berbagai bidang kehidupan, sedangkan kurikulum pendidikan dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan serta media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan .
Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik adalah sebuah pendekatan pendidikan yang mengacu pada filosofis belajar humanisme, yaitu pendidikan yang memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh domain yang ada .
Sehingga dalam proses pembelajarannya nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri peserta didik mendapat perhatian untuk dikembangkan. Menurut teori pendidikan humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat-laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaikbaiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pendidikan humanistik dalam pandangan Islam adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk hidup ciptaan Allah dengan fitrah-fitrah tertentu untuk dikembangkan secara maksimal dan optimal .
Pendidikan humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia , yakni makhluk ciptaan
Tuhan dengan fitrahnya. Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya, Maka posisi pendidikan dapat membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.
Dalam pendidikan humanis juga ditekankan bagaimana peserta didik dapat memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan, ini semua merupakan sebuah solusi dari semakin jauhnya pendidikan dari realitas sosial, oleh karena itu pendidikan humanis berusaha untuk mengembalikan pendidikan kepada realitas sosila dengan menanamkan nilai-nilai sosial dalam proses pendidikan.
Jadi berdasarkan teori humanisik, fungsi kurikulum adalah menyiapkan peserta didik dengan berbagai pengalaman naluriah yang sangat berperan dalam perkembangan individu.
Maksudnya adalah dalam kurikulum humanistik menekankan kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat c.
Dalam kurikulum humanistik pembelajaran lebih bersifat kooperatif , pembelajaran kooperatif atau cooperative learning sendiri merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa . Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif dilandaskan pada teori kognitif karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran.
Metode pembelajaran kooperatif learning mempunyai manfaat-manfaat yang positif apabila diterapkan di ruang kelas.
Karangbendo dalam Perspektif Kurikulum Humanistik
Pengembangan kurikulum yang penulis maksud di sini adalah segala penemuan atau perubahan kurikulum pendidikan yang telah diciptakan atau dikembangkan oleh sekolah dasar Muhamadiyah Karangbendo, meliputi kegiatankegiatan rutin yang dilaksanakan oleh sekolah tersebut.
Hal ini sejalan dengan pendapat Harold B. Alberty yang mendefinisikan kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan guru kepada peserta didiknya di bawah tanggung jawab sekolah .
Pendapat yang searah dan menguatkan pengertian tersebut juga dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis yang mendefinisikan kurikulum sebagai segala upaya sekolah-sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya rajin belajar, baik dalam ruangan kelas, halaman sekolah maupun di luar sekolah . Dengan kata lain pengembangan kurikulum itu tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, lebih dari itu pengembangan kurikulum mencakup semua pengalaman belajar peserta didik, bahkan hal yang dapat mempengaruhi perkembangan belajar peserta didik pada perkembangan pribadi itu juga termasuk kategori pengembangan kurikulum.
Bagi setiap sekolah, khususnya di sekolah dasar kurikulum merupakan salah satu instrumen penting guna menjalankan roda pendidikan.
Dalam rangka pengembangan kurikulum pendidikan, SD Muhamadiyah
Karangbendo mempunyai visi dan misi yaitu PROAKTIF, .
Sedangkan yang menjadi dasar atau landasan dalami pengembangan kurikulum pendidikannya mengacu pada Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1, yang artinya «Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakanmu», Kemudian juga hadist nabi Muhammad SAW.
Jika kita analisis lebih jauh dan kita kontekskan pada dunia pendidikan ayat pertama dari surat Al-alaq di atas seperti yang dijelaskan oleh Abdul Halim
Mahmud Syeh jami’ Al-Azhar diartikan bahwa lembaga pendidikan yang diterapkan atau ilmu yang diperoleh seseorang harus dapat memberikan manfaat pada pemiliknya, warga, masyarakat dan bangsanya, juga kepada manusia secara umum, ia harus dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, membawa cahaya ke seluruh penjuru serta berlaku sepanjang masa.
Sedangkan hadis nabi tersebut jika kaitkan dalam konteks pendidikan menjadi dasar dari ungkapan Long life education atau pendidikan seumur hidup.
Bahwasanya kehidupan di dunia ini tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak kita mulai terlahir sampai hidup ini berakhir pendidikan itu akan terus berlangsung.
Menuntut ilmu memang bukan kewajiban yang ditentukan waktunya seperti shalat dan puasa, tapi justru merupakan kewajiban sepanjang hayat.
Dengan terbiasa mengambil pelajaran dari seluruh kegiatan, peserta didik bisa mendapatkan banyak keterampilan. Hal inilah yang dapat membuat peserta didik lebih unggul dan dapat menjadi modal keterampilan hidup supaya mereka siap menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam dunia ini.
Untuk dapat mengetahui secara holistik dan komprehensif apakah karakter dari kurikulum Humanistik terdapat dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh SD muhamadiyah Karangbendo, maka penulis menjelaskan di bawah ini berdasarkan karakter-karakter umum yang terdapat dalam kurikulum
Humanistik.
Seperti yang telah penulis jelaskan bahwa kurikulum Humanistik adalah sebuah pendekatan pendidikan yang mengacu pada filosofis belajar humanisme, di mana pada konsep kurikulum ini pendidikan memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh domain yang ada , Lebih lanjut bahwa menurut teori kurikulum Humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Dalam hal pengembangan kurikulum pendidkan di SD Muhamadiyah
Karangbendo itu mempunyai keseimbangan antara ilmu agama dan juga ilmu dunia, oleh karena itu para peserta didik diajarkan tidak hanya mengedepankan nilai agama saja atau dunia saja akan tetapi antara agama dan dunia harus dapat berjalan bersama sehingga terbentuk manusia yang sempurna, yaitu dapat menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai akhlak seperti Rosulullah SAW serta mempunyai pengetahuan umum Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi Guru sebagai perencana yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar Guru sebagai pelaksana , yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber, konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & Humanistik selama proses berlangsung Guru sebagai penilai yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan , atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Beliau menjelaskan lebih jauh bahwasanya
Sebagai makhluk sosial, dalam kehidupannya sehari-hari, manusia itu saling membutuhkan antar sesama, Orang miskin membutuhkan pertolongan dari yang kaya berupa makanan, uang, dan materi yang lainnya, Orang yang kaya pun membutuhkan pertolongan dari orang yang miskin berupa jasa, tenaga, dan sebagainya, begitu pun dalam hal pendidikan yang mana, SD ini mempunyai prinsip tolong-menolong dalam proses pembelajarannya, dimana peserta didik diajarkan untuk membantu teman yang lain yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran».
Berkaitan dengan penjelasan ibu Suci Setyoningsih, mungkin yang dimaksud dengan tolong menolong dalam proses pembelajaran di SD ini adalah pembelajaran kooperatif dengan model peer teaching .
Oleh karena itu ibu Suci menjelaskan bahwa metode peer teaching ini hanya diterapkan di kelas-kelas tertentu yang memang memiliki syarat di atas, lebih lanjut beliau menambahkan jika metode pembelajaran di SD Muhamadiyah
Humanistik yang ada dalam sekolah ini adalah pembelajaran peer teaching .
Dalam hal evaluasi, kurikulum humanistik memeiliki perbedaan dengan jenis kurikulum lain, jika pada kurikulum lain umumnya lebih ditekankan pada hasil akhir atau produk. Sebaliknya, evaluasi kurikulum Humanistik lebih memberi penekanan pada proses yang dilakukan.
Kurikulum humanistik ini melihat kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk peserta didik di masa depan.
Dalam hal ini Ibu Suhartini menjelaskan bahwa
Di SD Muhamadiyah ini untuk melihat hasil evaluasi dari implikasi pembelajaran yang telah diselenggarakan sekolah bisa dilihat dari 2 hal, yaitu dari hasil pembelajaran berupa hasil/nilai rapor, dan juga Budi pekerti peserta didik yang dinilai melalui cara beriteraksi dengan teman, guru, dan juga kelakuan peserta didik saat berada di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat, bahkan evaluasi berupa budi pekerti ini mempunyai pengaruh besar bagi peserta didik itu sendiri dalam penentuan kenaikan kelas».
Pendapat Ibu Suhartini ini sejalan dengan pendapat Dewey yang membandingkan antara hasil pendidikan dan tujuan pendidikan, Dewey memberikan gambarannya tentang angin yang berhembus di padang pasir yang menyebabkan pasir berpindah dari tempatnya, inilah yang disebut hasil. Pasir berpindah karena hembusan angin sebagai hasil karena menunjukkan efek bukan tujuan. Sedangkan hakekat tujuan pendidikan dapat dilihat dari gambaran sekelompok lebah yang membangun sarang, menghisap sari madu dan memproduksi madu. Aktivitas lebah ini menunjukkan kegiatan bertahap,kegiatan satu mempersiapkan kegiatan berikutnya ketika lebah membangun sarang, sang ratu lebah bertelur yang disimpan di sarang lebah, kemudian telur dijaga dalam temperatur tertentu.
Wassalamualaikum Warahamatullahi Wabarakatuh
Sumber bacaan :
Reka Miswanto, Jurnal pendidikan dan pembelajaran dasar, volume 2 nomor 2 Desember 2015

Komentar
Posting Komentar